Selasa, 04 Desember 2012

Profile & Perjalanan Karir H. Muammar ZA


H. Muammar ZA & Ponpes Umul Quro Cipondoh Tangerang

Profil dan Perjalanan Karir H. Muammar ZA

H. Muammar ZA
Tempat Tanggal Lahir : Pemalang, 1955
Istri : Syarifah Nadiya
Ayah : H. Zainal Asyikin
Ibu : Hj. Mu'minatul Afifah
Anak : Lia Fardizza, Ahmad Syauqi Al-Banna, Husnul Adib Al-Hasyim, Raihan Al-Bazzi, Ammar Yuayyan Al-Dani

Sekilas Cerita Tentang Perjalanan Hidup dan Karir H. Muammar Z.A


Al-Quran Membawanya Keliling Dunia
Suaranya yang merdu dalam melantunkan Al-Quran, mengantarkannya ke berbagai pelosok bumi. Mulai dari lereng gunung, lembah, ngarai, sampai ke beberapa kota besar dunia, bahkan ke dalam Kakbah.
Lantunan suaranya mengalun, mulai dari bawah tenda-tenda sederhana, lapangan terbuka, sampai istana raja.

Malam baru saja beranjak, ketika sesosok pria yang masih terlihat muda menaiki panggung dan duduk di kursi yang disediakan. Usai salam dengan suara rendah cenderung serak, pria berperawakan ramping itu mulai membaca taawudz dan basmalah. Dengan mata setengah terpejam, perlahan, ia mulai mengalunkan ayat-ayat suci Al-Quran dengan irama bayati, lagu pembuka qiraah yang bernada rendah.

Perlahan tapi pasti suara itu meningkat, terkadang melengking tinggi, melantun panjang. Di depannya, ratusan orang bagaikan tersihir, terkesima mendengarkan lantunan suaranya yang naik-turun mengirama, bagaikan gelombang ombak yang susul-menyusul menghampiri pantai. Tak jarang, setiap kali alunan suaranya berhenti untuk mengambil napas, puluhan kepala, seperti tersadar dari hipnotis, segera menggeleng takjub.

Ia memang legenda. Meski Musabaqah Tilawatil Quran secara rutin digelar di berbagi tingkatan, belum ada satu pun yang menyamainya. Hampir semua umat Islam Indonesia, terutama di pedesaan, jika ditanya siapakah qari yang paling dikenal di Indonesia, jawabnya pasti Ustadz H. Muammar Z.A.

Suaranya yang merdu serta keindahan iramanya dalam melantunkan Al-Quran begitu termasyhur. Kelebihan ini pula yang mengantarkannya ke berbagai pelosok bumi. Mulai dari desa-desa di lereng gunung, tepi lembah dan ngarai, sampai ke beberapa kota besar dunia, bahkan mengantarkannya masuk ke dalam Kakbah. Lantunan suaranya yang khas mengalun, mulai dari bawah tenda-tenda sederhana, lapangan terbuka, sampai istana raja. Ia penah mengaji di istana Raja Hasanah Bolkiah, istana Yang Dipertuan Agong Malaysia, sampai istana raja-raja di Jazirah Arab.

Awal Juli, Alkisah mengunjungi pria kelahiran Pemalang ini di kediamannya di depan Masjid Al-Ittihad, di bilangan Kebon Jeruk, Jakarta Barat. Ayah satu putri dan empat putra ini bertutur renyah, diselingi tawa segar.

Naik Tandu
Saya ini anak kampung yang beruntung bisa keliling dunia, bisa mengaji saat jemaah haji wukuf di Padang Arafah dan saat bermalam di Mina. Bahkan, pada tahun 1981, saya diberi kesempatan masuk ke dalam Kakbah, tuturnya haru. Wah, nggak kebayang sebelumnya. Di dalam Kakbah saya cuma bisa tertunduk, menangis. Saya nggak berani mengangkat wajah dan memandang langit-langit.

Lebih dari 25 tahun, Muammar melanglang buana, melakukan perjalanan yang menurutnya sangat mengasyikan. Dalam menghadiri undangan mengaji, ia pernah mencoba berbagai kendaraan, dari mulai naik pesawat pribadi, pesawat komersial, limousine, ojek, sampai tandu. Medan pegunungan Jawa Barat, tuturnya, yang paling sering membuatnya ditandu. Sementara pedalaman Kalimantan dirambahnya dengan glotok, ojek perahu mini yang mampu menjangkau sungai-sungai kecil di pedesaan.

Suatu ketika, ceritanya, ia diundang mengaji di beberapa tempat di daerah Garut. Qari yang puluhan kasetnya masih terus dicari orang ini menempuh perjalanan Bandung-Garut-Cikajang-Singajaya dengan kendaraan roda empat. Namun perjalanan berikutnya yang naik-turun gunung harus dilaluinya dengan ojek, dan terakhir jalan kaki menyusuri jalan setapak.

Kelelahan setelah menempuh perjalanan jauh, akhirnya Muammar tidak mampu lagi berjalan. Panitia yang mengawalnya pun berinisiatif untuk menyewa tenaga orang kampung untuk menandunya sampai di lokasi pengajian. Setelah berjalan kaki selama empat jam, ia pun tiba. Dan yang membuat semangatnya bangkit kembali, ternyata, ratusan hadirin masih dengan setia menunggu kehadirannya.

Sampai di tempat pengajian jam dua belas malam, saya langsung mengaji, kenang pangasuh Pesantren Ummul Qura, Cipondoh, ini. Selesai mengaji, jam setengah dua, kami turun. Sampai di kota Garut jam setengah delapan pagi.

Tidak sekali-dua kali perjalanan seperti itu dilakoninya. Belum lama ini, untuk kesekian kalinya, Muammar menghadiri undangan ke Cianjur bagian selatan, daerah Cikendir, yang juga harus dilalui dengan jalan kaki berjam-jam di jalan setapak berlumpur. Pulangnya, ia kelelahan. Dan akhirnya, lagi-lagi, ditandu.
Ia memang tidak pernah memilih-milih tempat atau pengundang. Baginya, selama ada waktu, dan kondisi fisiknya memungkinkan, pasti dengan senang hati ia akan hadir. Dari koceknya ia membayar sekitar 500 ribu kepada para pemandunya.

Niat saya itu kan berkhidmah, tutur Muammar dengan rendah hati. Istana, saya datangi. Pelosok kampung pun, saya kunjungi.

Ia meyakini, ia bisa terus mengaji. Dan kariernya terus langgeng seperti sekarang ini, antara lain, berkat doa orang-orang yang tinggal di pelosok desa dan pegunungan yang pernah dihadirinya mereka itu. Mereka itu betul-betul ikhlas, baik, dan jujur, katanya tulus.

Bayangkan, untuk menghadiri pengajian saya, mereka sampai harus berjalan puluhan kilometer. Bahkan ada yang membawa bekal dan kompor, serta masak di perjalanan.

Dalam perjalanan berkhidmah ini pula, Muammar pernah mengalami kecelakaan lalu lintas di daerah Cirebon menjelang tahun 1990-an. Mobilnya hancur dan ia pun terluka parah. Cukup lama ia harus menginap di rumah sakit. Saat itulah Muammar merasakan kedekatan dengan para ulama yang bergiliran menjenguknya. Tak jera, setelah pulih ia pun kembali menjelajahi pelosok tanah air, untuk melantunkan firman-firman Tuhannya.

Sejak Belia
Meski masih terlihat cukup muda, Ustadz Muammar tahun ini menginjak usia 51 tahun. Ia dilahirkan di Dusun Pamulihan, Warungpring, Kecamatan Moga, sekitar 40 kilometer selatan ibu kota Kabupaten Pemalang, dari pasangan H. Zainal Asyikin dan Hj. Mukminatul Afifah, ulama dan tokoh masyarakat di desanya. Muammar adalah anak ketujuh dari sepuluh bersaudara. Namun hanya sembilan yang masih hidup. Belakangan, adiknya, Imron Rosyadi Z.A., juga mengikuti jejaknya menjadi qari nasional setelah menjuara MTQ. Adiknya yang bungsu, Istianah, kini menjadi salah satu anggota DPRD Tingkat I Yogyakarta.

Muammar mengenal qiraah sejak belia. Ia memang berasal dari keluarga qari. Ayah dan kakak-kakaknya dikenal bersuara merdu. Sang ayah adalah pemangku masjid di dusunnya, yang setiap akhir malam melantunkan tarhiman, shalawat dan puji-pujian untuk membangunkan orang-orang guna mendirikan Shalat Shubuh.

Waktu kecil, ia, bersama teman-temannya, belajar seni baca Al-Quran dari teman lain yang lebih besar, yang kebetulan menguasai beberapa lagu. Di samping itu Muammar mulai keranjingan terhadap qiraah, belajar secara serius pada kakaknya, Masykuri Z.A. Namun karena kakaknya tinggal di sebuah pesantren yang cukup jauh dari desanya, pelajarannya baru akan bertambah jika Masykuri pulang ke rumah ketika liburan.
Namun demikian bakat Muammar mulai kelihatan. Tahun 1962, ia menjuarai MTQ tingkat Kabupaten Pemalang untuk tingkat anak-anak, mewakili SD-nya.

Waktu itu saya masih memakai celana pendek saat mengaji, he he he, kenang Muammar.
Sekitar awal tahun 60-an, suara dan lagunya memang sudah mulai bagus, meski hafalan suratnya masih terbatas. Ia sudah mulai diundang untuk mengaji di acara-acara pengajian atau pengantinan di kampungnya. Dan lucunya, ayat yang dibaca itu-itu saja. Ketika kakaknya pulang dari pesantren, barulah hafalan ayat dan lagunya bertambah.

Selepas SD, Muammar sempat nyantri di Kaliwungu, Kendal, sebelum melanjutkan ke PGA di Yogyakarta. Selesai PGA, ia sempat juga belajar di IAIN Sunan Kalijaga, Yogyakarta. Di Kota Gudeg, ia melanjutkan kiprahnya di bidang seni baca Al-Quran. Muammar mengikuti MTQ tingkat Provinsi DIY yang diadakan oleh Radio Suara Jokja tahun 1967. Ia berhasil menyabet juara pertama untuk tingkat remaja. Tahun-tahun berikutnya, Muammar ikut lagi dan kembali juara. Tahun itu juga, ia mewakili DIY ikut MTQ tingkat nasional di Senayan tingkat remaja, namun ia belum meraih juara.

Sejak itu, Muammar menjadi langganan tetap kontingen DIY di MTQ Nasional, tahun 1972, 1973, dan seterusnya. Tahun 1979, ia bahkan terpilih menjadi anggota kontingen Indonesia di sebuah haflah, semacam MTQ internasional, yang diselenggarakan di Mekkah. Gelar juara nasional pertama kali diraihnya di MTQ Banda Aceh tahun 1981. Kali ini ia mewakili DKI Jakarta. Muammar yang saat itu tengah belajar di Perguruan Tinggi Ilmu Al-Quran (PTIQ), Ciputat, mendapatkan hadiah sebuah televisi. Pemerintah Provinsi DKI sendiri kemudian memberi tambahan bonus hadiah, ibadah haji.

Namun, tidak seperti kariernya di bidang tarik suara, dalam pendidikan Muammar mengakui kurang berhasil. Kuliahnya di PTIQ yang tinggal skripsi tidak selesai. Waktu itu, kata sang qari, ada perubahan peraturan yang agak mendadak. Jika semula syarat ujian skripsi itu hafal lima juz Al-Quran, tiba-tiba diubah menjadi 30 juz.
Wah, saya nggak siap, ujar Muammar jujur. Meskipun demikian, uniknya, setelah menjadi juara nasional dan qari internasional, ia justru diminta mengajar di sana.

Tidak Berpantang
Ditanya mengenai rahasia suaranya, suami Syarifah Nadiya ini dengan serius mengatakan tidak mempunyai resep rahasia apa pun. Dalam hal-hal seperti itu, saya cenderung rasionalis, ungkap Muammar. Saya nggak begitu percaya pada hal-hal begituan, seperti nggak boleh makan ini-itu, harus cukup tidur, atau harus tidur jam segini. Bahkan saya jarang tidur lho, apalagi sebelas hari ini saya selalu pulang pagi.

Ia pun mengakui, meski dulu pernah sekali ikut-ikutan mencoba, tidak berani ikut gurah. Saya nggak berani ikut, katanya. Apalagi yang enggak jelas. Karena, salah-salah malah merusak pita suara. Kalau cuma melegakan, mungkin ya. Tapi kalau dipaksakan begitu lalu saraf tenggorokannya putus, kan malah jadi penyakit, he he he. Sebenarnya, kata Muammar, kalau memahami tata cara wudu yang benar dan menerapkannya, itu juga sudah menjadi gurah. Misalnya ketika istinsyaq, memasukkan air ke hidung lalu mengeluarkan lagi dengan keras.

Disinggung bagaimana kiatnya menjaga suara, qari yang pernah diundang mengaji di istana Yang Dipertuan Agong Malaysia dan Sultan Hasanah Bolkiah, Brunei, ini mengaku hanya memasrahkan diri kepada Allah. Niat saya mau ngaji lillaahi taala, Ya Allah, tolong saya. Namun yang pasti, setiap bangun tidur ia selalu melakukan warming up, pemanasan, dengan rengeng-rengeng, menggumamkan nada-nada tilawah. Demikian juga ketika akan mengaji. Menurutnya ini penting, untuk menghindari kaget.

Berbeda dengan para penyanyi yang banyak mempunyai pantangan, terutama makanan dan minuman, Muammar menyantap hampir semua makanan dan minuman yang disukainya. Bahkan, makanan kesukaannya adalah sambel, lalap, dan ikan asin, yang harus selalu ada di meja makannya.

Saya hanya memastikan, ketika saya mau ngaji, kondisi badan saya fit, ungkapnya, berbagi resep. Baru kemudian, kunci terpentingnya adalah mengaji dengan ikhlas dan perasaan senang.

Bagi Muammar, mengaji dengan ikhlas dan senang hati itu menjadi hiburan dan kenikmatan tersendiri. Maka, tak mengherankan, setiap kali melantunkan ayat-ayat suci Al-Quran, ia tampak begitu menikmati. Terkadang matanya setengah terpejam, sembari menggeleng-gelengkan kepalanya. Pokoknya saya dengerin sendiri, karena memang pada dasarnya saya suka. Itu, menurutnya, membuatnya mampu mengaji minimal setengah jam, jika di dalam kota. Karena mereka kan sering ketemu saya. Tapi kalau di luar kota, terlebih di luar Jawa, saya bisa satu jam, bahkan lebih.

Dalam satu hari biasanya ia mengaji di tiga sampai empat tempat. Di beberapa tempat, terkadang ia juga berceramah, biasanya jika mubalignya tidak datang. Mengaji itu pula yang mempertemukannya dengan sang istri tercinta, ketika sang pujaan hati yang dinikahinya pada tahun 1984 itu duduk dalam kepanitiaan sebuah pengajian di Kemanggisan. Buah pernikahan dengan wanita berdarah Aceh itu kini sebagian telah beranjak remaja.
Lia Fardizza, putri sulung qari yang pernah berguru kepada Syekh Abdul Kholil Al-Mishri, qari besar Negeri Piramid, kini menginjak semester ketiga di London School, jurusan bahasa Inggris. Sejak TK, Lia memang gandrung dengan bahasa internasional tersebut, terlihat dari hobinya membaca komik-komik berbahasa Inggris. Belakangan ia juga gemar mendendangkan lagu-lagu Barat. Tidak mengherankan, dialek lisannya, menurut Muammar, cenderung ke Amerika.

Putra-putranya, Ahmad Syauqi Al-Banna, kini duduk di kelas 3 SMU, Husnul Adib Al-Hasyim kelas 2 SMP, Raihan Al-Bazzi, kelas 4 SD, dan si bungsu Ammar Yuayyan Al-Dani, kelas 3 SD. Di antara lima anaknya, tiga di antaranya mewarisi keindahan suara sang ayahanda, Lia, Raihan, dan Ammar. Namun karena keterbatasan waktu serta kesibukan Muammar, diakuinya, potensi putra-putrinya itu belum tergarap.

Menurutnya, qari yang baik itu harus memiliki suara yang bagus, napas panjang, penguasaan lagu, dan dialek yang bagus. Dan, membentuk dialek itu tidak gampang. Orang Jawa, misalnya, akan cukup sulit mengucapkan huruf ba dengan benar. Ia sendiri mengaku cukup lama mempelajari dialek Al-Quran dengan memperhatikan dialek qari-qari dari Mesir, Arab, dan daerah Timur Tengah lainnya.

Qari lokal yang bagus, menurut Muammar, biasanya yang berasal dari pesantren Al-Quran yang kebetulan pengasuhnya juga seorang qari mumpuni. Ini karena sang kiai biasanya mempunyai kelengkapan ilmu qiraah dan kepekaan, maka pembelajaran qiraahnya juga dilengkapi dengan ilmu tajwid, makharijul huruf (ilmu pelafalan huruf Al Quran), dzauq (cita rasa bahasa), dan sebagainya.

Dari Pedesaan
Karena itulah, sejak empat tahun Muammar memulai pembangunan sebuah pesantren di daerah Cipondoh, yang dinamakannya Ummul Qura. Karena seorang qari, ia bercita-cita menyebarkan tradisi qiraah ini melalui pesantrennya ini, sebagai sumbangan pada bangsa. Kalau Allah mengizinkan, kata Muammar, saya ingin mencetak Muammar-Muammar baru. Melalui lembaganya itu pula, ia mengharapkan, seni baca Al-Quran akan kembali dicintai dan dikagumi umat Islam.

Muammar bercita-cita membangun sebuah lembaga pendidikan yang komprehensif, mulai dari TK, SD, SMP, sampai SMA yang mempunyai nilai plus, Al-Quran. Ia mengharapkan bisa membekali santrinya dengan kelengkapan ilmu-ilmu Al-Quran, baik tajwid, qiraah, dasar-dasar tafsir, maupun tahfidz-nya (hafalan Al-Quran). Paling tidak, targetnya setamat SD atau SMP para santri akan mampu membaca Al-Quran dengan fasih, baik, dan benar.

Terlebih dengan lingkungan yang Islami di pesantren, setidaknya mereka akan mempunyai pegangan hidup.
Pada tahap awal, sudah dibangun sebuah masjid, ruang baca, dan dua buah gedung asrama. Ke depan ia ingin membangun sekolah formal dulu, baru kemudian akan diasramakan. Namun, karena keterbatasan dana, sementara ini pembangunan Pesantren Ummul Qura tersebut tersendat.

Tanggal 22 Juli kemarin di Gorontalo diselenggarakan Seleksi Tilawatil Quran tingkat nasional. Namun, tidak seperti pada dasawarsa 80-an, event empat tahunan yang diselenggarakan untuk menjaring bibit-bibit baru qari dan qariah serta penghafal dan mubaligh berbasis Al-Quran ini sepertinya tak lagi memiliki gaung.
Akhir-akhir ini semangat mendalami seni membaca Al-Quran di masyarakat kita ini memang cenderung mengalami penurunan, tutur qari yang pernah diminta membaca Al-Quran saat wukuf di Padang Arafah. Apalagi kecintaan terhadap Al-Quran.

Belakangan ini, perhatian orang, terutama generasi mudanya, lebih tercurah ke kontes-kontes musik yang memang lebih memikat, ujar tokoh berusia 51 tahun ini gundah. Sementara MTQ, dari dulu kemasannya tidak pernah berubah. Ia merindukan, MTQ ke depan akan mempunyai gereget dan gaung yang besar, seperti pada masa-masanya dulu.

Lebih lanjut, Muammar juga mengharapkan optimalisasi peran lembaga resmi yang dibentuk untuk mengembangkan seni baca Al-Quran, Lembaga Pengembangan Tilawatil Quran. Idealnya, lembaga tersebut tidak hanya sibuk menjelang pelaksanaan STQ atau MTQ, atau menjaring bahan jadi, tetapi secara intensif dan konsisten menggali dan membina bibit unggul sejak dari tingkat dusun. Selama ini, bukankah juara-juara tilawah justru banyak muncul dari pedesaan, yang ekonominya pas-pasan.

Sabtu, 01 Desember 2012

H. MUAMMAR ZA

kompilasi mp3 h.muammar za

http://archive.org/download/HMuammarZa-haflahDiMasjidCutMutiaJakarta/HMuammarZa-haflahDiMasjidCutMutiaJakarta.mp3

Al fath_NEW~1 11.1 MB
Qs Fhusshilat 30 46 5.3 MB
Haflah cut mutia jakarta H Muammar ZA~1 10.6 MB
Haflah H Muammar ZA 2012~1 4.8 MB
Qs Aj jumuah NEW~1 5.7 MB
Qs Al anfal 5.6 MB
Qs Al Baqoroh 197 202 Qs Al Ahzab 40 42 5.9 MB
Qs Al Baqoroh 197 202 6.0 MB
Qs Al Baqoroh 21 22 An nisa 142 143 3.6 MB
Qs Al fajr sd Ad duha_NEW~1 6.9 MB
Qs Al haj 23-36_NEW~1 6.7 MB
Qs Al hasyr 6.0 MB
Qs Al imran 144-146 Qs Al hazab 21-22 36-42 Qs Al fill 7.1 MB
Qs Al imron 133 136_NEW~1 6.7 MB
Qs Al imron 190 194 Qs An nasr_NEW~1 5.5 MB
Qs At tahrim_NEW~1 5.7 MB
Qs Az zumar 71-74 Qs An nas_NEW~1 5.8 MB
Qs Bani isroil 16 24_NEW~1 5.7 MB
Qs Ibrohim 31 41 Al Quraisy An naas_NEW~1 11.3 MB
Sholawat badar~1 5.9 MB
Takbiran H Muammar ZA 1~1 6.8 MB
Takbiran H Muammar ZA 2~1 5.4 MB
Ya sayyidi (koor)_NEW~1 5.7 MB
(update link 21-11-2012)

Software belajar qira'at/tarannum (tilawah al-quran) interaktif:

Read More..

Kamis, 15 November 2012

download mp3 qiraat imran rosyadi za di pakistan

Read More..

download mp3 mujawwad (bukan murottal) abdul basit

Read More..

download mp3 syeikh abdul basit lengkap 30 juz

رقم السورة اسم السورة
لتحميل ملف MP3
1 الفاتحة اضغط هنا للتحميل
2 البقرة
اضغط هنا للتحميل
3 آل عمران اضغط هنا للتحميل
4 النساء
اضغط هنا للتحميل
5 المائدة اضغط هنا للتحميل
6 الأنعام
اضغط هنا للتحميل
7 الأعراف اضغط هنا للتحميل
8 الأنفال
اضغط هنا للتحميل
9 التوبة اضغط هنا للتحميل
10 يونس
اضغط هنا للتحميل
11 هود اضغط هنا للتحميل
12 يوسف
اضغط هنا للتحميل
13 الرعد اضغط هنا للتحميل
14 إبراهيم
اضغط هنا للتحميل
15 الحجر اضغط هنا للتحميل
16 النحل
اضغط هنا للتحميل
17 الإسراء اضغط هنا للتحميل
18 الكهف
اضغط هنا للتحميل
19 مريم اضغط هنا للتحميل
20 طه
اضغط هنا للتحميل
21 الأنبياء اضغط هنا للتحميل
22 الحج
اضغط هنا للتحميل
23 المؤمنون اضغط هنا للتحميل
24 النّور
اضغط هنا للتحميل
25 الفرقان اضغط هنا للتحميل
26 الشعراء
اضغط هنا للتحميل
27 النّمل اضغط هنا للتحميل
28 القصص
اضغط هنا للتحميل
29 العنكبوت اضغط هنا للتحميل
30 الرّوم
اضغط هنا للتحميل
31 لقمان اضغط هنا للتحميل
32 السجدة
اضغط هنا للتحميل
33 الأحزاب اضغط هنا للتحميل
34 سبأ
اضغط هنا للتحميل
35 فاطر اضغط هنا للتحميل
36 يس
اضغط هنا للتحميل
37 الصافات اضغط هنا للتحميل
38 ص
اضغط هنا للتحميل
39 الزمر اضغط هنا للتحميل
40 غافر
اضغط هنا للتحميل
41 فصّلت اضغط هنا للتحميل
42 الشورى
اضغط هنا للتحميل
43 الزخرف اضغط هنا للتحميل
44 الدّخان
اضغط هنا للتحميل
45 الجاثية اضغط هنا للتحميل
46 الأحقاف
اضغط هنا للتحميل
47 محمد اضغط هنا للتحميل
48 الفتح
اضغط هنا للتحميل
49 الحجرات اضغط هنا للتحميل
50 ق
اضغط هنا للتحميل
51 الذاريات اضغط هنا للتحميل
52 الطور
اضغط هنا للتحميل
53 النجم اضغط هنا للتحميل
54 القمر
اضغط هنا للتحميل
55 الرحمن اضغط هنا للتحميل
56 الواقعة
اضغط هنا للتحميل
57 الحديد اضغط هنا للتحميل
58 المجادلة
اضغط هنا للتحميل
59 الحشر اضغط هنا للتحميل
60 الممتحنة
اضغط هنا للتحميل
61 الصف اضغط هنا للتحميل
62 الجمعة
اضغط هنا للتحميل
63 المنافقون اضغط هنا للتحميل
64 التغابن
اضغط هنا للتحميل
65 الطلاق اضغط هنا للتحميل
66 التحريم
اضغط هنا للتحميل
67 الملك اضغط هنا للتحميل
68 القلم
اضغط هنا للتحميل
69 الحاقة اضغط هنا للتحميل
70 المعارج
اضغط هنا للتحميل
71 نوح اضغط هنا للتحميل
72 الجن
اضغط هنا للتحميل
73 المزّمّل اضغط هنا للتحميل
74 المدّثر
اضغط هنا للتحميل
75 القيامة اضغط هنا للتحميل
76 الإنسان
اضغط هنا للتحميل
77 المرسلات اضغط هنا للتحميل
78 النبأ
اضغط هنا للتحميل
79 النازعات اضغط هنا للتحميل
80 عبس
اضغط هنا للتحميل
81 التكوير اضغط هنا للتحميل
82 الإنفطار
اضغط هنا للتحميل
83 المطفّفين اضغط هنا للتحميل
84 الإنشقاق
اضغط هنا للتحميل
85 البروج اضغط هنا للتحميل
86 الطارق
اضغط هنا للتحميل
87 الأعلى اضغط هنا للتحميل
88 الغاشية
اضغط هنا للتحميل
89 الفجر اضغط هنا للتحميل
90 البلد
اضغط هنا للتحميل
91 الشمس اضغط هنا للتحميل
92 الليل
اضغط هنا للتحميل
93 الضحى اضغط هنا للتحميل
94 الشرح
اضغط هنا للتحميل
95 التين اضغط هنا للتحميل
96 العلق
اضغط هنا للتحميل
97 القدر اضغط هنا للتحميل
98 البينة
اضغط هنا للتحميل
99 الزلزلة اضغط هنا للتحميل
100 العاديات
اضغط هنا للتحميل
101 القارعة اضغط هنا للتحميل
102 التكاثر
اضغط هنا للتحميل
103 العصر اضغط هنا للتحميل
104 الهمزة
اضغط هنا للتحميل
105 الفيل اضغط هنا للتحميل
106 قريش
اضغط هنا للتحميل
107 الماعون اضغط هنا للتحميل
108 الكوثر
اضغط هنا للتحميل
109 الكافرون اضغط هنا للتحميل
110 النصر
اضغط هنا للتحميل
111 المسد اضغط هنا للتحميل
112 الإخلاص
اضغط هنا للتحميل
113 الفلق اضغط هنا للتحميل
114 النّاس
اضغط هنا للتحميل 
Software belajar qira'at/tarannum (tilawah al-quran) interaktif:
Read More..

Rabu, 14 November 2012

download kompilasi maqro al-quran dengan berbagai maqom

http://fathulwahhab.blogspot.com/